assalamu'alaikum...

sugeng rawuuuh,,, semoga bermanfaat ^_^

Slide 1

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Slide 2

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Slide 3

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Slide 4

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Slide 5

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 31 Mei 2021

Kangen

Rasanya sudah sekian lama blog ini tidak dibuka, huhu.

Sekian tahun terbengkalai tanpa tulisan apapun,

Dari berstatus pelajar sampai sekarang sudah menjadi ibu ibu. Hahaha

Ingin sekali kembali menulis, menulis apasaja yang ingin ku tulis.

Tentang peranku sebagai istri, ibu, atau menulis ringkasan ringkasan kecil yang mungkin bermanfaat.

Bismillah, juni semua hal kecil ku tata ulang. Termasuk niatku untuk kembali menulis. Semoga ada waktu dan semoga Allah ridho. 

Jumat, 05 April 2013

PENGERTIAN, SEJARAH DAN TUJUAN ORIENTALIS


PENGERTIAN, SEJARAH DAN TUJUAN ORIENTALIS

A.    Pengertian Orientalis dan Orientalisme
1.      Orientalisme
Orientalis/Orientalisme menurut segi bahasa berasal dari kata orient yang berarti timur, dengan demikian orientalis berarti hal-hal yang berhubungan dengan masalah ketimuran/dunia timur[1]. Kata Orientalisme adalah kata yang dilabelkan kepada sebuah studi/penelitian yang dilakukan selain orang timur terhadap berbagai disiplin ilmu ketimuran, baik dalam bidang bahasa, agama, sejarah, dan permasalahan-permasalahan sosio-kultural bangsa timur[2].
Menurut H.M. Yoesoef Sou’yb orientalisme berasal dari kata orient  dalam bahasa Prancis yang secara etnologis berarti bangsa-bangsa timur. Dan kata ini memasuki berbagai bahasa di eropa temasuk bahasa inggris, oriental adalah sebuah kata sifat yang berarti hal-hal yang bersifat timur yang sangat sangat luas ruang lingkupnya. Suku kata isme (belanda) atau ism (inggris) menunjukkan pengertian tentang suatu paham. Jadi orientalisme adalah suatu paham atau penelitian studi yang mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa timur beserta lingkungan dan peradabannya[3].
Prof. Tk. H. Ismail jakub, S.H. M.A : orientalisme terdiri dari kata oriental dan isme. Oriental artinya bersifat timur, dan isme adalah kata sambung yang menunjukkan suatu paham, ajaran, cita-cita, cara, sistem, atau sikap. Maka orientalisme dapat diartikan ajaran atau paham yang bersifat Timur[4]
2.      Orientalis
Orientalis adalah sekelompok atau golongan yang berasal dari bangsa-bangsa barat (eropa) yang berkonsentrasi atau memfokuskan diri dalam mempelajari kajian ketimuran, khususnya dalam hal keilmuan, peradaban dan agama, terutama pada Negara Arab, Cina dan India.
Secara sederhana kata orientalis bisa diartikan “seorang yang melakukan kajian tentang masalah-masalah ketimuran, mulai dari sastra, bahasa sejarah antropologi, sosiologi, psikologi sampai agama dengan menggunakan paradigma konklusi yang distortif tentang objek kajian yang dimaksud.
B.     Sejarah Orientalis
Tidak diketahui secara pasti kapan mulai munculnya orientalis, tetapi bisa diperkirakan bahwa orientalis muncul pada saat umat muslim mencapai puncak kegemilangan prestasi peradabannya khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Banyak orang-orang barat yang belajar pada ulama dan cendekiawan muslim pada saat itu terutama di wilayah Kepulauan Laut Putih (Andalusia) dan Sicilia daerah Eropa yang menjadi wilayah kekuasaan umat muslim. Dan banyak diantara mereka adalah pendeta-pendeta agama Nashrani dan Yahudi. Mereka adalah :
1.    Pendeta Gerbert, dia terpilih sebagai pemimpin gereja roma pada tahun 999 M. selepas belajar di berbagai perguruan tinggi di Andalusia (Spanyol)
2.    Pendeta Petrus (1092-1156)
3.    Pendeta Gerrardi Krimon (1114-1187 M.)
Setelah kembali kenegaranya, meraka mengajarkan kepada masyarakat Eropa dan menyebarkan kebudayaan Arab serta menterjemahkan buku-buku karya ulama-ulama muslim.
Mereka merasa bahwa Islam adalah pembelot dari agama mereka dan juga suatu ancaman bagi agama masehi sendiri. Maka dari itu mereka berusaha untuk mempelajari islam guna untuk menghancurkan dan melemahkannya. Mereka berusaha dengan gigih untuk mengetahui tentang seluk-beluk islam lebih mendalam dengan tujuan untuk menghancurkan islam dari dalam. Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa sejarah orientalisme pada fase awal adalah sejarah tentang pergulatan dan pertarungan agama dan ideologi antara bangsa barat yang diwakili oleh agama Nashrani dan Yahudi dengan bangsa timur yang diwakili oleh para penganut agama Islam. Menurut R.W. Southern “Islam merupakan problema masa depan dunia Barat Nasrani secara keseluruhan di Eropa”.[5]
Disamping hal diatas pecahnya Perang Salib (The Crusades) antara umat Islam dan umat Nashrani secara khusus menjadi sebab pemicu bagi orang-orang Eropa untuk melakukan kajian terhadap dunia Islam. Perang salib adalah suatu tragedi dhsyat yang tak pernah dilupakan oleh siapapun. Perang antara dua kekuatan besar yakni islam dan kristen dengan delapan gelombang penyerbuan terhadap umat islam selama hampir dua abad (1096-1270 M), dan berahir dengan kekalahan dan kehancuran kekuatan Dunia Barat (Kristen) sehinnga menyebabkan kemarahan besar dan dendam yang membara bagi bangsa-bangsa barat untuk menghancurkan Islam.
Gerakan orientalis tumbuh secara pesat pasca Perang Salib. Orientalis adalah satu bentuk invasi intelektual yang bermuara dari sebab-sebab keagamaan. Dunia barat yang terdiri dari ahlul kitab (Nasrani dan Yahudi), setelah reformasi keagamaan membutuhkan pandangan ulang terhadap ajaran dan kitab-kitab keagamaan mereka. Untuk itu mereka mulai mengadakan studi tentang bahasa Arab dan Islam. Mereka memanfaatkan apa saja dari karya-karya muslim. Dari kajian tentang islam, Orientalisme kemudian berkembang menjadi kajian-kajian tentang kondisi ekonomi, politik dan lain-lain, dengan tetap pada prinsip utama dan sebagai prolog kristenisasi dengan tujuan-tujuannya.
Kegiatan penyelidikan tantang dunia timur oleh para orientalis telah berlangsung selama berabad-abad secara sporadis. Tetapi baru menunjukkan intensitasnya yang luar biasa sejak abad XIX M. Penyelidikan bermula secara terpisah mengenai masing-masing agama itu. Max Muller (1823-1900 M.) pada akhirnya menjelang abad XIX M. Menyalin seluruh kitab yang dipandang suci oleh masing-masing agama timur kedalam bahasa Inggris, terdiri dari 51 jilid tebal, berjudul The Sacred Books Of The East (Kitab-Kitab Suci Dari Dunia Timur) yang biasanya disingkat dengan SBE. Berkat cara Max Muller membahas masing-masing agama itu mengikuti bunyi dan isi masing-masing kitab suci hingga mendekati objektivitas, dan hal itu sangat berbeda dengan cara para orientalis pada masa sebelumnya maupun pada masanya sendiri. Karena itu ia dipandang sebagai pembangun sebuah disiplin ilmu yang baru, yang dikenal dengan comparative religions (perbandingan agama-agama)[6].
Pada tahun 1873 digelar muktamar orientalis pertama di Paris. Muktamar serupa terus diselenggarakan sebagai wadah pertemuan para oreintalis dan wadah pengkajiania tiur atau isu-isu terhangat mengenai dunia timurbaik dari sisi perkembangan keagamaan maupun peradaban dunia timur[7].
C.    Tujuan Orientalis
Sebagaimana yang telah kami jelaskan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya bahwa tujuan para orientalis mempelajari semua hal tentang semua hal yang berkaitan dengan dunia timur islam hususnya yakni untuk melemahkan dan menghancurkan islam dari dalam melalui para pemeluknya sendiri.
Diantara tujuan pokok gerakan orientalisme selain yang telah kami paparkan diatas ialah sebagai berikut :
1.    Memurtadkan kaum muslim dari agamanya sendiri, dengan cara memutus dan memecah belah persatuan umat kepada kelompok-kelompok atau golongan yang saling membenci satu sama lain
2.    Melemahkan rohani umat islam dan menciptakan perasaan selalu kekurangan dalam jiwanya, dan kemudian membawa mereka kepada sikap pasrahdan tunduk kepada kehendak serta arahan orang-orang Barat.
3.    Mendistorsi ajaran islam dengan cara menutup-nutupi kebaikan dan kebenaran  ajarannya, supaya masyarakat awam menganggap bahwa islam sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Oleh karenanya sudah tidak layak untuk dijadikan pedoman hidup kaum muslim.
Hal ini adalah sesuatu yang paling berbahaya yang selalu dipropaganda dan dikumandangkan oleh para orientalis dan missionaris. Padahal sejarah membuktikan bahwa bagaimana perlakuan baik yang ditunjukkan kaum muslim dan sikap toleransinya terhadap non muslim pada ahir perang Salib sekembalinya para tentara Salib ke Eropa.
4.    Mendukung segala bentuk penjajahan terhadap negara-negara islam dan melaksanakan segala bentuk perlawanan terhadap islam itu sendiri.
5.    Memisahkan kaum muslim dari akar-akar kebudayaan islam mereka yang kuat dengan cara memutarbalikkan pokok-pokok ajarannya dan mencabutnya dari sumber-sumbernya yang asli serta menghancurkan nilai-nilai dasarnya untuk menghancurkan keberlangsungan individu, masyarakat, jiwa dan akal pikiran kaum muslim.


BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpiulan
    Orientalis adalah gerakan yang timbul akibat gesekan antara dunia Barat dan Timur lebih mengerucut lagi yakni perang ideologi dan peradaban antara umat Islam dan Kristen. Gerakan ini muncul sudah sejak lama tetapi baru menampkkan dirinya (secara terorganisir) pasca kekalahan bangsa barat oleh islam pada Perang Salib.
     Awal mulanya para pelajar barat belajar berbagai disiplin kilmu kepada ulama dan cendikiawan muslim. Kemudian setelah mereka kembali kenegaranya mereka mengajarkan apa yang telah mereka dapat dari dunia islam, dan meraka berusaha untuk membangkitkan peradaban mereka kembali yang pada saat itu dalam keadaan suram karena terkungkung oleh otoritas gereja. Selebihnya setelah mereka berhasil membangun peradabannya mereka berusaha untuk meruntuhkan islam. Gerakan ini bertujuan menghancurkan islam dari dalam, yakni menggerogoti pemahaman para pemeluk islam terhadap nilai-nilai dasar islam itu sendiri melalui berbagai macam cara. Mereka meniupkan virus-virus keraguan terhadap semua doktrin fundamental islam terhadap pemeluknya. Tidak hanya itu saja tetapi mereka juga mengatakan bahwa islam sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman sehingga sudah tidak bisa diterapkan lagi. Dengan upaya itu mereka bermaksud untuk mengahncurkan islam melalui media pemeluknya sendiri yang telah meninggalkan nilai-nilai islam sehingga ahirnya mereka yang mengaku islam tidak tahu dan tidak mengerti akan islam hakikat keislamannya sendiri.
     Bagi mereka islam adalah suatu ancaman bagi  masa depan dunia barat dan mereka juga beranggapan bahwa islam adalah kelompok/aliran theology yang membelot dairi agama mereka (Nasrani).
B.       Saran-saran
     Kami sebagai pemakalah menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan pada makalah yang kami buat ini. Maka dari itu kami mengharap saran dan kritik terutama dari bpk. Dosen pengampu dan segenap mahasiswa/i demi hasil yang lebih maksimal dan memuaskan pada tugas-tugas baik dalam mata pelajaran yang sama atau yang lainnya di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Hamim Thoha, Islam dan NU Dibawah Tekanan Problematika Kontemporer, Diantama Surabaya, 2004.
Abdul Rouf Hasan M. el-Badawiy, Abdurrahman Ghirrah, Orientalisme Dan Missionarisme, Menelikung Pola Pikir Umat Islam, Dialektika Kehidupan Politik, Agama, Pendidikan Dan Sosial Masyarakat Muslim,  PT Rosdakarya, Bandung, 2008.
Buchari Mannan, Menyingkap Tabir Orientalisme, Amzah, Jakarta, 2006.


[1]Di kutip dari Longman dictionary of English. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.
[2] Al Ummah, Dr. Moh zaqzuq Orientalisme Dan Kemunduran Berpikir Mengahadapi Pergulatan Peradaban, hal 18, 1404
[3] Di kutip dari H.M. Joesoef Sou’yb, Orientalis dan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1985, hlm. 1. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.
[4] Di kutip dari Tk. H. Ismail Jakub, Orientalisme dan Orientalisten, Faizan, Surabaya, 1970, hal. 11. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.  
[5] Dr. Mahmoud Hadi Zaqzuq, Al-Istisyroq wal khalfiah lis shira’ Al-Hadiry, Dar El-Manar, hlm. 28. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.
[6] Buchari mannan, menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006. hlm. 10-11.
[7] Ajnihatul mukr ats tsalatsah, hal. 89-90

Selasa, 19 Februari 2013


KESALAHAN LOGIS
Ada beberapa kesalahan logis (fallacy) yang seringkali terjadi pada siapapun juga; Tak peduli betapa tinggi intelegensinya atau betapa lengkap informasinya meskipun benar bahwa makin tinggi kecerdasan, wawasan dan pengetahuan seseorang maka makin sedikit kesalahan logis yang dilakukannya. Agar mudah menghindarinya, maka berikut ini macam-macam kesalahan logis yang sering terjadi :

1.       Generalisasi yang Gegabah. 
Ini adalah kesalahan logis yang sepertinya paling sering terjadi. Generalisasi berarti memberlakukan suatu putusan atau kesimpulan secara umum. Kesalahan terjadi tatkala sample yang digunakan sebagai acuan tidak mencukupi atau karena tidak disebutkan batasan-batasan seperti: beberapa, sebagian, kebanyakan, sejumlah kecil, sering, jarang dan sebagainya. Bisa juga karena terlalu mudah memakai batasan umum seperti kata  “semua”, “selalu” dan sebagainya. Sebagian kesalahan juga terjadi akibat dari kesimpulan induktif yang tidak berdasar.
Contoh kesalahan ini:
§  Pegawai Negeri itu malas-malas“. Dikatakan karena melihat beberapa PNS sering tidur atau keluyuran atau lambat ketika bekerja. Kenyataannya tidak semua PNS itu malas.
§  Para Pejabat itu korup“. Dikatakan karena melihat beberapa pejabat melakukan korupsi. Kenyataannya tidak semuanya demikian.
§  “Semua orang Madura itu kasar”. Dikatakan karena sering menemui orang suku Madura yang gaya bicaranya kasar. Kenyataannya tidak semuanya demikian.
§  Berbagai kekacauan yang terjadi belakangan ini berlatar-belakang politik“. Dikatakan karena asumsi belaka, bukan karena fakta-fakta logis. Kebenarannya belum tentu demikian.
§  Para Guru tidak sadar akan masalah-masalah yang paling mendesak dari murid-muridnya“. Kenyataannya belum tentu semuanya demikian dan memutuskan sesuatu sebagai mendesak itu bisa jadi berlandaskan asumsi belaka.

2.       Non Sequitur (Belum Tentu).
Kesalahan ini terjadi karena adanya loncatan sembrono dari satu premis menuju kesimpulan yang pada hakikatnya tidak ada kaitannya dengan premis itu. Hubungan yang ada antara premis dan kesimpulan biasanya hanya berupa; asumsi, prasangka, klaim, tuduhan dan penghakiman. Secara mudah kesalahan logis ini dikenali sebagai memastikan sesuatu yang tidak pasti.
Contoh kesalahan ini:
§  Dia orang pandai, maka perilakunya pasti aneh.
§  Suwoto suka wanita, maka bagaimana dia akan menjadi atasan yang baik?
§  Da’i itu berpoligami, maka mana mungkin dia bisa jadi panutan umat?
§  Kadir berdebat dengan dosen yang galak itu, dia pasti tidak lulus.
§  Ia orang baik, suami yang baik, ayah yang baik dan tetangga yang baik, maka ia pasti akan menjadi pemimpin yang baik.

3.       Analogi Palsu.
Analogi palsu merupakan suatu bentuk perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat benar dengan cara dibandingkan dengan gagasan lain yang pada hakikatnya tidak berhubungan atau berlainan.
Contoh:
§  Seperti manusia yang akan mati bila kepalanya dipotong, maka negara akan hancur bila presidennya dibunuh.
§  Membahagiakan istri sama dengan membahagiakan hewan peliharaan; belai kepalanya sesering mungkin dan cukupi kebutuhannya.
§  Kalau kakak boleh keluar malam hari, kenapa adik tidak boleh?
§  Kalau dalam Islam laki-laki boleh memegang hak talak, harusnya perempuan juga boleh.
§  Hidup ini laksana ke warung; Begitu kebutuhan tercukupi, maka tinggal pergi meninggalkannya.
§  Hidup ini panggung sandiwara.

4.       Penalaran Melingkar.
Kesalahan ini terjadi tatkala premis dan kesimpulannya sama. Dalam diskusi kadang terjadi keadaan di mana pembicara mengasumsikan kesimpulan atau ide-ide yang ingin diyakinkan pada audien ke dalam premis-premisnya. Akhirnya, premis bisa jadi kesimpulan dan kesimpulan bisa jadi premis. Ada yang menyebut kesalahan logika ini sebagai satanic circle (lingkaran setan).
Contoh:
§  Pendidikan tinggi patut dicari karena orang berpendidikan tinggi patut dicari.
§  Kehidupan abadi pasti ada karena kenyataan kekalnya jiwa menjamin hal itu.
§  Manusia merdeka karena bertanggung jawab dan ia bertanggung jawab karena merdeka.
§  Saya mencintainya karena tumbuh rasa cinta di hati saya padanya.
§  Saya benci karena pokoknya benci.

5.       Deduksi Cacat.
Deduksi adalah mengambil kesimpulan dari hal yang umum (biasanya secara umum benar) untuk diberlakukan pada hal yang khusus. Bila dilakukan dengan benar sebenarnya tidak masalah, namun bila gegabah bisa jadi kesimpulan yang salah.
Contoh:
§  Dia pasti muslim yang baik karena dia rutin shalat jum’at di masjid.
§  Andar tumbuh dalam keluarga tanpa Ayah, dia akan jadi masalah di sekolahnya.
§  Mobil itu speedometernya masih 12.000 km. Mobil itu pasti masih hebat.
§  Andi putra seorang guru hebat, studinya pasti hebat pula.

6.       Pikiran Simplistis.
Kesalahan ini terjadi tatkala seseorang terlalu menyederhanakan masalah. Masalah yang begitu rumit hanya dirumuskan menjadi dua kutub saja; hitam-putih, benar-salah, kalau tidak begini maka harus begini. Padahal selalu ada warna lain selain hitam dan putih, ada hal yang tidak bisa diputuskan benar atau salah secara keseluruhan dan hampir selalu ada opsi-opsi lain.
Atau kesalahan bisa juga terjadi karena masalah yang faktornya banyak dan rumit hanya disederhanakan menjadi satu atau beberapa faktor sederhana saja. Kesesatan logis ini kerap terjadi pada orang-orang yang “bertampang menguasai masalah”.
Contoh:
§  Kalau orang tidak beragama, niscaya dia merupakan pribadi yang tak bermoral dan tak bisa dipercaya.
§  Dalam berpolitik, hanya ada dua pilihan; Kawan atau lawan.
§  Anda ikut strategi A atau membuat strategi sendiri sih?
§  Pilih mana antara ikut mencoblos dalam pemilihan umum atau jadi warga negara yang buruk?
§  Pengaturan bangsa itu sama dengan pengaturan keluarga.
§  Menjadi pemimpin umat itu sama saja dengan menjadi pemimpin shalat.
§  Islam mengalami kemunduran karena ulamanya tidak berijtihad sendiri, tapi malah bermazhab.
§  Kalau sistem negara ini diganti menjadi sistem A, maka negara ini akan maju dan makmur.
§  Presiden itu sukses memimpin bangsa karena dia laki-laki.

7.       Argumen ad Hominem (Menyerang Orangnya).
Seharusnya dalam diskusi yang diserang adalah argumen lawan, bukan orangnya yang berargumen. Teknik menyerang orangnya ini biasanya dipakai tatkala seseorang kehabisan argumen logis tapi tidak mau terlihat kalah dalam diskusi atau debat hingga secara licik mengalihkan topik bahasan pada kekurangan diri lawan bicaranya atau orang yang ingin dijatuhkannya yang tidak berkaitan dengan topik sebenarnya. Godaan menggunakan teknik sesat ini membesar tatkala dibarengi dengan luapan emosi.
Contoh:
§  Bagaimana kamu bisa menerangkan masalah ini lah wong kamu sendiri kuliah saja tidak lulus-lulus?
§  Guru itu tidak pantas mengajar karena tubuhnya pendek, ikut partai A dan orangnya miskin.
§  Dia itu pejabat macam apa? Tampangnya saja sudah kriminal.
§  Bisa-bisanya dia mencalonkan diri sebagai ketua, padahal rumah dan mobilnya saja peyot.

8.       Argumen ad Populum (Menyerang Kelompoknya).
Sama dengan kesalahan logis sebelumnya, kesalahan ini tidak menyerang pada argumennya atau pokok masalah sebenarnya. Bedanya kali ini yang diserang adalah kelompok dari lawan bicara atau orang yang ingin dijatuhkannya.
Contoh:
§  Megawati tidak pantas jadi pimpinan karena perempuan itu lemah secara fisik, emosional dan intelegensial.
§  Jangan percayai ucapannya Sutarno, biasanya pedagang di pasar-pasar sering bohong ketika bicara.
§  Pidato Bung Karno ketika mengajak Indonesia keluar dari PBB.

9.       Wibawa Palsu. Mengutip pendapat seorang ahli seringkali dibutuhkan untuk memberi bobot pada penalaran, namun ahli yang dikutip harus benar-benar ahli di bidang yang sedang dibicarakan. Pengutipan pendapat ahli yang salah karena bukan bidang spesialisasinya disebut dengan wibawa palsu.
Contoh:
§  Mengutip pendapat Einstein dalam masalah nutrisi anak.
§  Mengutip pendapat Henry Dunan dalam masalah politik.
§  Mengutip pendapat sosiolog hukum umum dalam masalah hukum Islam
§  Mengutip Ulama ahli fiqih (hukum Islam) untuk melawan argumen ulama ahli hadith.
§  Dan sebagainya yang bukan spesifikasinya.

10.   Sesudahnya Maka Karenanya (Post hoc ergo propter hoc).
Kesalahan logis ini berkaitan dengan salah interpretasi atau salah tafsir terhadap hubungan sebab akibat. Tidak semua yang terjadi disebabkan oleh kejadian sebelumnya. Sebagian orang masih sering terkena kesalahan logis semacam ini, terutama mereka yang percaya takhayul.
Contoh:
§  Setelah membuang surat berantai dia dipecat dari jabatannya. Jadi sebab dia dipecat adalah membuang surat berantai.
§  Setelah menikah dengan istri yang sekarang, dia hidup miskin. Jadi sebab dia miskin adalah istrinya yang sekarang.
§  Setelah SBY diangkat jadi presiden sering terjadi bencana alam di Indonesia. Jadi penyebab bencana alam itu adalah SBY.

11.   Bersamanya maka karenanya (Cum hoc ergo propter)
Kesalahan ini terjadi tatkala menganggap suatu kejadian mesti jadi penyebab kejadian lain yang terjadi bersamaan. Padahal kedua kejadian tersebut pada hakikatnya tidak terkait sama sekali. Disebut juga sebagai kesalahan logis koinsidensi/kebetulan.
Contoh:
§  Ketika Suwoto menusuk tiang rumah tetangganya dengan pisau, orang yang punya rumah meninggal seketika. Berarti tetangganya itu meninggal karena tiang rumahnya ditusuk oleh Suwoto.

12.   Tidak Relevan
Kesalahan ini kerap terjadi pada orang yang kurang terpelajar. Isi pembicaraannya tidak berkaitan dengan pokok masalah yang dibahas. Kadangkala orang terpelajar pun jatuh dalam kesalahan ini ketika sedang ingin mengalihkan diri dari pokok masalah sesungguhnya
Contoh:
§  Kenapa saya dihukum karena pelanggaran ini kalau Boss sendiri sama-sama melakukan?“. Meskipun si Boss melakukan kesalahan yang sama, tapi tidak membuat pelanggaran si bawahan jadi benar.
§  Tolong Si Sinta supaya diangkat menjadi sekretaris karena dia orangnya cantik!“. Menjadi sekretaris sebenarnya tidak berhubungan dengan kecantikan, karena bukan modelling.